Minggu, 06 Februari 2011

HIKMAH SEPANJANG MASA


Mengapa dunia menjadi kacau?

Mengapa dunia menjadi brutal?

Mengapa dunia menjadi buas?

Karena dunia sudah kehilangan jati dirinya, Karena dunia sudah kehilangan rohnya, karena dunia sudah kehilangan sifat keduniaannya.



Banyak orang sukses dengan dunia, banyak pula orang yang jatuh juga karena dunia,
Banyak orang yang berbondong bondong, asma Tuhan, tapi hanya sedikit orang yang mengenal asma itu.

Inilah krisis rohani melanda umat masyarakat, rohani yang semestinya suci hanya diperuntukkan untuk Tuhan akan tetapi rohani manusia sekarang diperuntukkan selain Tuhan,
Bagaimana tidak? Tidak usah jauh-jauh, ketika kita mengagungkan asmanya, bergetarkah hati kita?

Ketika kita mengucap Allohu Akbar, kecilkah kita dihadapannya?

Ketika kita mengucap syahadat, adakah Tuhan-Tuhan baru yang kita sembah?

Ataukah dengan ilmu kita kita miliki, kita juga merasa agung, dengan kekayaan, kitapun juga merasa mulia, dengan seabrek ibadah yang kita lakukan, kitapun merasa suci.

Lalu dimanakah Tuhan?

Apakah kita berhak menyandingkan Tuhan dengan keagungan kita?

Apakah kita berhak menyandingkan Tuhan dengan kemuliaan kita?

Apakah kita berhak menyandingkan Tuhan dengan kesucian kita?

Wahai saudaraku mari kita sama-sama merenung!

“ilmu adalah hijab yang paling besar” yang membuat orang bertepuk dada, semakin tinggi ilmu seseorang semakin tinggi pula ke “AKU” an seseorang itu, dan ini tak bisa terbantahkan, kecuali orang yang diberi petunjuk dengan ilmunya, malah membuat orang itu semakin tunduk merasa kecil dihadapannya, merasa hina dihadapannya, merasa berdosa karena tidak bisa mengamalkannya.

Lalu bagaimana dengan kita?

Kesombongan atau kerendahankah yang menyelimuti jiwa kita?

Inilah krisis rohani telah melanda umat di jagad raya, mengagungkan selain Tuhan, mengagungkan dirinya, mengagungkan amal ibadahnya, mengagungkan ilmunya, mengagungkan kekayaanya, mengagungkan intelektualitasnya.

Padahal kita telah berjanji 5 kali sehari didalam doa iftitah yang kita ucap, sesengguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk engkau yaa Tuhan.
Tapi sudah benarkah sholat kita untuk Tuhan atau untuk berpaling untuk mendapatkan surgaNya?

Benarkah Ibadah kita untuk Tuhan atau malah ibadah itu kia jadikan untuk memupuk kemuliaan kita?

Lalu bagaimana dengan hidup dan mati apakah juga untuk Tuhan atau malah hidup dan mati kita, kita peruntukkan untuk mengamba kepada dunia?

Padahal sudah jelas peringatan dari Tuhan

“Sekiranya di langit dan di bumi (jagad) ini ada Tuhan-Tuhan (aku) selain Alloh, maka rusaklah jagad ini.” (QS : Al Anbiya’ 21)

Wahai saudaraku masihkah kita sempat tersenyum melihat situasi dan kondisi seperti ini?

Wajar bala’ bencana beasr akan turun, karena Tuhan-Tuhan baru bermunculan dimuka bumi ini, karena manusia sudah tidak mengenal jati dirinya, manusia sudah tidak sifat kemanusiaanya, karena manusia sudah menjadi Tuhan-Tuhan baru yang bermunculan dimuka bumi.

Ingat umur manusia ada batasnya, seperti halnya dengan bungkus rokok, ketika bungkus rokok itu masih penuh dengan isinya, semua tersimpan dengan rapi, bungkus rokok itu akan tersimpan dengan baik-baik oleh pemiliknya, akan tetapi setelah rokok itu di hisap satu persatu, sehingga habis rokok itu didalam bungkusnya, maka bungkus yang kelihatan menawan dengan segala asesoris gambarnya sudah tidak bermanfaat lagi, dan akan dibuang oleh pemiliknya.

Begitupula dengan umur manusia, apabila habis kontrak kita didunia, tidak akan ada manfaat lagi segala asesoris yang melekat didalam jasad baik kemuliaan, kekeramatan, rumah yang mewah, mobil dengan harga miliyaran, uang jutaan dolar yang didepositokan, istri yang cantik yang senantiasa mendampingi hidup kita, semua tiada manfaat, karena karena apapun bentuk kemewahan maupun kesusahan yang ada didunia harus kita tinggal.

Maka dari itu, sudahkan dunia itu kita kendarai untuk menuju kepadaNya, atau malah menyesatkan kita, sehingga kita lupa padaNya?

Renungkan wahai saudaraku!

Akankah janin-janin yang ada dirahim bakal seorang ibu akan menjadi cikal-bakal munculnya Tuhan-Tuhan baru dimuka bumi?

BY: KUSNIATI (SEKUM 2010)

2 komentar: