Minggu, 12 Desember 2010

Mahasiswa Rantau



Kampus hijau mentereng 
isinya mahasiswa 
yang modelnya macam2x 
merah kuning hijau 
dikmpus yang hijau


mahasiswa rantau
senin makan 
selasa puasa 
rabu hutang
eh kamis di banyar 
jum’at lapar lagi  
sabtu makan lagi 
minggu  hutang lagi 
senin bayar lagi 

rambut metal gondrong 
celananya bolong 
jarang makan apa lagi jajan 
pacar tiada duit pun tak punya 
hutang di mana-mana

masuk kelas sret2x 
udah injuri time 
datang telat  
pulang paling rain 
ip jeblok 0,5 
kagak lulus-lulus

udah 14 semester 
jadi mahasiswa abadi


Hmm....lirik lagu di atas memang sungguh menggelitik namun sarat dengan makna filosofis yang mungkin bagi mereka yang mengalaminya merupakan sebuah pengalaman sekaligus kenangan hidup yang tak akan pernah bisa di lupakan. Ya seperti itulah kehidupan seorang mahasiswa rantau. Hidup serba pas-pasan namun semangat tetap menggebu-gebu, berkobar dalam jiwa. Tinggal di komisariat rela jauh dari keluarga dan gemerlap lampu kota tepian yang bisa menggoyahkan iman.Tidur beralaskan ambal biru yang lusuh dengan bantal tipis. Makan seadanya namun begitu nikmat terasa walau hanya dengan nasi campur (nasi plus serondeng mamake Nono khas banjarnegara serta mie instan) yang di beli memakai uang koin cinta komisariat di warung mamak Jasdar, kadang-kadang pake kerupuk bawang dari warung yang sama pula. Dan jika beruntung sesekali Nia akbid dari kejauhan dengan senyumnya yang khas serta ciri khasnya yang suka berujar”gila banteng”nampak membawa serantang makanan bernutrisi racikannya. Seketika perasaan sumringah dalam hati ”alhamdulillah”.
 Kehidupan ini memang senantiasa berputar dan masa kan terus berganti. Kehidupan para penghuni komisariat boleh jadi saat ini seperti ini lah adanya. Tidak teratur dan menderita namun sadar atau tidak ini lah miniatur kehidupan di masyarakat kelak yang akan kita hadapi. Bahkan jauh lebih berat jika tidak punya bekal yang cukup jangan harap mampu melaluinya dengan baik. Mungkin ini pula lah alasan sehingga para Alunmi sering kali berkata kepada senior yang telah menyelesaikan tanggung jawab akademiknya di perguruan tinggi dengan berkataan ”selamat datang di dunia nyata” dunia real yang penuh dengan persaingan. Tapi hidup dengan membawa semangat aktivisme tidak berarti menelantarkan kewajiban sebagai akademisi sampai-sampai IP jeblok,ini yang mesti di fahami dengan baik oleh penerus tongkat estafet di himpunan ini di masa yang akan datang.
Mahasiswa rantau sebuah konotasi yang bisa jadi diartikan seorang mahasiswa yang jauh dari sanak family dan orang yang di kasihinya. Sosok anak muda tangguh yang bertekad bulat meraih asa dan cita-cita. Secara psikologis beban mental bagi mereka yang berstatus mahasiswa rantau di tinjau dari segi finansial memang cukup berat, mengingat hidup di rantau orang butuh biaya hidup lebih di banding mahasiswa lainnya yang tinggal bersama keluarga tentu fasilitas penunjang lebih memadai.
Yang menjadi kelebihan mahasiswa rantau bisa jadi kemampuan untuk survive dalam kondisi serba terbatas. Dan daya tahan menghadapi kondisi dan medan hidup yang berat. Menjadi aktivis kampus baik itu oraganisasi internal maupun oraganisasi eksternal boleh jadi sebuah pilihan yang mampu mengakomodir sebagian potensi mahasiswa rantau. Kita tidak bisa menafikan bahwa sesunggunhya mayoritas aktivis berasal dari mahasiswa urban.
Nah..dengan demikian sungguh di sayangkan apabila ada`seorang mahasiswa urban yang enggan beraktivitas di luar jam kuliah dengan alasan ingin fokus kuliah. Namun dari beberapaa mahasiswa rantau yang saya temui yang bisa di bilang kerjanya hanya kuliah kost dan kuliah lagi. Saat saya ajukan pertanyaan seputar indeks prestasinya bisa di bilang biasa-biasa aja tidak lebih baik dari saya yang punya aktivitas di luar jam kuliah. Artinya alangkah ruginya seorang mahasiswa yang punya banyak waktu untuk akademiknya namun nilai yang diperoleh tidak memuaskan. Saya akan memaklumi dan menerima mahasiswa yang memang nilainya bagus dan dia memang fokus di kuliahnya. Sekarang tinggal bagaimana seorang mahasiswa yang katanya agent of change anda agent of social control dapat mengambil sikap.
  

By. Muh.Tasrin Solihin

1 komentar: