Jumat, 22 Juni 2012



TEKNIK DEBATING[*]

  1. Pernahkah Anda merasa buntu dalam berdiskusi? Lawan Anda terlalu cerdas sehingga Anda selalu kalah dalam diskusi?
  2. Pernahkah Anda merasa menghadapi argumen yang kokoh bagaikan gunung, dan tak tembus seperti benteng Tentara Salib sekian abad lalu? Argumen tersebut demikian logis, kokoh, dan masuk akalnya sehingga pendapat Anda begitu kerdil dan lemah di hadapannya. Tak ada jalan keluar — Anda sepertinya sudah pasti akan kalah dalam debat tersebut.
  3. Tapi, jangan menyerah!! Ketika Anda berhadapan dengan argumen sehebat apapun, selalu ada jalan keluar. Ikuti penjelasan berikut ini, dan jadilah pemenang!!…
Ø  Cara Pertama: Cari Kelemahan Lawan Bicara Anda, dan Jatuhkan Dia dengan Itu Istilah kerennya, Argumentum ad Hominem.
Semua orang pasti punya kelemahan. Punya rasa malu. Punya sisi buruk dalam hidup. Nah, sekarang saatnya Anda mengeksploitasi semua kelemahan tersebut. Jangan biarkan lawan bicara Anda menertawakan Anda dan memandang Anda seperti kutu di sol sepatunya.
Lawan bicara Anda mungkin selalu meneror Anda dengan pertanyaan menjengkelkan — misalnya, pertanyaan legendaris “bener nggak sih, agama kita melarang umatnya berpacaran?” Padahal agama mazhab Anda jelas-jelas menyatakan demikian. Kebenarannya sudah terbukti, lintas generasi, dari ulama terdahulu hingga zaman sekarang. Tak seharusnya hal itu diperdebatkan!! Orang itu pasti salah!! Sekarang, Anda cari segala kelemahannya. Ah, ada! Orang itu ternyata hanyalah seorang mahasiswa biasa. Mahasiswa ngerti apa urusan agama? Omongannya pasti salah!!
Itu dia kelemahannya — nyatakan dia sebagai seorang mahasiswa kesurupan, agar lebih afdhol. Maka, jawaban Anda idealnya akan seperti berikut:
“Saya nggak perlu dengerin ocehan mahasiswa kesurupan macem ente.”
Maka, rekan Anda itu akan jengkel sendiri mendengarnya. Dan Anda pun sukses menyarangkan satu argumentasi dengan telak!! Nggak nyambung? Ah, memang iya. Tapi itu tetap kebenaran kan? Fakta bahwa ia mahasiswa kesurupan memang tidak berhubungan dengan “hukumnya berpacaran” yang ia tanyakan — tapi Anda tetap bisa memenangkan diskusi kok.
Ø  Cara Kedua: Jatuhkan Dia dengan Argumennya sendiri!
Sebetulnya tidak persis seperti judulnya, tapi bisa dibayangkan seperti ini.
(+) “Seharusnya kita mempelajari dulu teologi agama lain secara detail, daripada langsung mengkafirkan mereka tanpa tedeng aling-aling.
(-) “Apa? Bicara apa kamu? Jangan-jangan kamu ini antek liberal ya?”
Dengan demikian, si pembicara pertama langsung jadi ‘tertuduh’. Mungkin dia cuma berusaha belajar obyektif, tapi itu kan bukan urusan Anda. Pokoknya, Anda menang!! 
Ø  Cara Ketiga: Serahkan pada yang Ahli
Kalau Anda sudah mengerahkan semua kemampuan Anda, dan ternyata Anda tetap terpojok dalam diskusi, ada jalan keluar yang cukup mudah. Serahkan saja pada ahlinya! Anda bebas dari masalah, dan lawan diskusi Anda (mungkin) bisa mendapat masukan yang bagus, langsung dari ‘ahlinya’.
Contohnya bisa diringkas seperti ini.
(+) “Saya yakin itu benar. Kalau ente nggak percaya, silakan debat langsung pada kiai saya. Biar dia yang jelaskan.”
Jelas ini cara yang paling jitu. Pertama, Anda tak perlu capek-capek berpikir. Kedua, Anda tak perlu capek-capek menjawab. Dan, ketiga — Anda mendapat kesempatan menyebarkan kepiawaian guru Anda pada orang lain!!
Berbakti pada guru itu perbuatan mulia, betul? 
Ø  Cara Keempat: Berkaca Pada Sejarah
Lawan bicara Anda meneror Anda dengan pertanyaan berat. Katanya, agama Anda adalah agama besar di dunia, dengan jumlah penganut sekitar dua milyar jiwa. Tetapi, mengapa banyak pemeluknya yang tinggal di negara miskin? Mengapa pemeluknya sendiri bolak-balik dicap radikal, teroris dan kampungan? Sementara, yang kaya malah asyik berfoya-foya laiknya pangeran Arab di negeri modern.
Nah, lawan bicara Anda bertanya. Semengenaskan itukah kondisi umat Anda, yang, katanya, merupakan ‘umat terbaik’ ?
Anda kehabisan ide. Bingung? Tak usah khawatir! Ingatlah akan kebesaran umat Anda di masa lalu!! Langsung muntahkan sebagai serangan balik!!
(+) “Kalian, umat Muslim, sungguh aneh. Kalian memiliki seperangkat hukum yang lengkap, dan penganut yang banyak. Bahkan, kalian menjadi agama mayoritas di beberapa negara Asia dan Afrika. Tetapi, mengapa kalian justru seolah tenggelam di kancah dunia?”
(-) “Sebenarnya tidak begitu. Di masa lalu, umat kami pernah sangat berkuasa, dan juga sangat maju di bidang IPTEK. Pencapaian itu sangat hebat — kami memiliki ilmuwan semacam Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dan lain-lain, yang sulit dicari tandingannya di dunia Barat.”
Ah, betapa indahnya masa lalu. Anda bahkan bisa menangkis keburukan masa kini dengan segala kenangan indah tersebut — sampai-sampai Anda bisa lupa bangun dari mimpi indah itu. 
Ø  Cara Kelima: Ambil Pendapat dari Para Ahli, dan Lontarkan
Ini berlaku terutama pada pembahasan yang mencakup sosial, politik, dan agama. Di dunia yang sifatnya tidak eksak itu tidak seperti matematika, fisika, dan elektronika, pendapat para ahli bisa saja berbeda daripada kenyataan aslinya.
Ada kelebihan jika Anda memakai cara ini. Pertama, Anda menyandarkan pendapat Anda pada orang yang memang “ahlinya”, sehingga lawan bicara Anda tidak bisa mendebat lebih lanjut. Kedua, Anda akan dianggap cerdas karena dapat mengutip dengan persis ucapan ahli yang berkompeten!!
Contoh penerapannya seperti berikut ini:
(+) “Umat Islam kok sekarang pada eksklusif ya? Banyak yang sibuk ibadah sendiri, dan tidak mau membaur ke masyarakat dan tetangga.”
(-) “Menurut Ulama X, seharusnya tidak begitu. Beliau sendiri menekankan pentingnya berbuat baik pada tetangga, karena begitulah teladan dari Rasul. Ditambah lagi, tetanggalah yang akan menjadi penolong pertama kita di kala sulit.”
(+) “Tapi, mengapa keluarga Y di ujung sana itu begitu tertutup? Suaminya sering pergi,sementara istrinya mengurung diri saja di rumah.”
Tidak mengubah kenyataan sih; tapi setidaknya bisa melegakan perasaan Anda — bahwa umat Anda sebenarnya dianjurkan untuk tidak berbuat demikian. Padahal, perbuatan itu jauh lebih bermakna daripada kata-kata, betuuul?? 
… dan disinilah akhirnya. Anda sudah menerapkan semua cara di atas. Tetapi, semuanya mentah — ANDA GAGAL!!
Lawan bicara Anda berhasil mementahkan semua argumen Anda. Maka, inilah saatnya Anda mengeluarkan sebuah jurus terakhir. Jurus yang paling dahsyat, dan merupakan kombinasi dari semua trik di atas…
Ø  Cara Terakhir: Bantai Babi Buta!!!
Anda mungkin kalah telak. Semua argumen Anda gagal. Anda tak bisa menerima kenyataan bahwa umat terbaik kebanggaan Tuhan Anda ternyata terpuruk bagaikan buih di lautan.
Lawan Anda bangga dan menertawakan Anda, yang cuma bisa copy-paste dari internet — tanpa bisa menulis pendapat Anda sendiri dengan runtut. Bagaimana caranya melarikan diri dari masalah ini?
Tak ada cara lain: bantai secara membabi buta!! Nyambung nggak nyambung, peduli amat!!
(+) “Katanya umat terbaik? Kok sekarang masih gini-gini aja sih?”
(-) “Masih mendingan umat gue kali yee… seenggaknya nggak main bikin murtad orang. Lagian ni agama keluar paling terakhir, udah pastilah jadi yang paling sempurna….!!!”
Mungkin belakangan umat Anda bakal mendapat sebutan sebagai umat bodoh dan keras kepala, tapi peduli amat. Dalam keadaan gawat, semua bisa jadi halal kan? ***
Dan, demikianlah akhirnya pembahasan kita kali ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi yang membacanya.
Semoga Allah selalu memberi hidayah pada kita semua — dari yang segala tersurat maupun yang tersirat; dari yang tegas maupun yang halus, dan dari yang terang-terangan maupun yang satire dan ironik.
_BERDEBATLAH YANG SANTUN KARENA BERHIMPUN ITU PENTING_

[*] Dipublikasikan oleh Najib (Kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Malang), disampaikan oleh Muhammad Nida’ Fadlan dalam Program Pengenalan Studi dan Almamater (PROPESA) Fak. Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 3 Oktober 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar